Ekonomi Politik Internasional 

Permasalahan keamanan pasca Perang Dingin menjadi isu yang sering kali diperbincangkan. Kini, pengertian keamanan sendiri bukanlah hanya segala sesuatu yang berbasis militer namun mulai mengarah kepada pendefinisian keamanan non-tradisional yang mulai menempatkan isu-isu seperti ekonomi sebagai salah satu isu keamanan kontemporer. Perkembangan ekonomi sendiri tidak dapat dipisahkan dengan politik jika mengaitkannya dengan peranan-peranan negara dalam berjalannya roda perekonomian disuatu negara. Merkantilisme disini merupakan salah satu teori dalam perkembangan ekonomi politik internasional yang secara jelas menjelaskan begitu pentingnya peran suatu negara dalam ekonomi dan pasar. Tidak seperti lawannya para liberalis yang menyerahkan jalannya perekonomian kepada individu dan pasar, merkantilis lebih menegaskan negara sebagai aktor utama untuk mencapai kekuatan dan kekayaan nasional. Umumnya, negara menerapkan kebijakan proteksionis guna  melindungi kekuatan dan kekayaan nasional tersebut.

Sejak awal kemunculannya, abad 17, merkantilisme ini kerap diselaraskan dengan beberapa istilah yang definisinya saling mendekati satu sama lain, yakni nasionalisme ekonomi, realisme, neo-merkantilisme, dan statisme. Menurut pandangan penulis, nasionalisme ekonomi ini dianggap erat kaitannya dengan merkantilisme karena beberapa alasan. Pertama, kecintaan warganegara ataupun pemerintahan terhadap negaranya ini membuat negara berupaya sekeras mungkin untuk melindungi kekayaan nasional, mengingat dunia semakin global dan hubungan saling-ketergantungan semakin meluas. Kedua, upaya melindungi kekayaan nasional ini direalisasikan dalam bentuk kebijakan proteksionis yang bertujuan untuk melindungi industri demi mengejar ketinggalan dari negara lain. Sedangkan, perkembangan merkantilisme sendiri seiring berjalannya waktu melahirkan pemahaman serupa namun lebih berkembang, yaitu neo-merkantilisme, dimana teori ini memandang dunia internasional mulai dinamis, global, dan hubungan saling-ketergantungan tidak dapat dipungkiri lagi.

Teori penentang liberal ini mengajak para akademisi berfikir mengenai peran penting negara dalam pergerakan roda perekonomian negaranya dan bagaimana sebuah negara dapat mempengaruhi perekonomian negara lain. Pandangan merkantilis secara sekilas hampir begitu mirip dengan apa yang dipahami oleh para kaum realis yang menjelaskan bahwa dalam sebuah arena pastilah ada yang menang dan ada yang kalah. Perkembangannya mencerminkan bahwa selama negara masih memiliki peranan besar, perekonomian tidak dapat dipisahkan dari politik sehingga saat kita membicarakan tentang bagaimana negara memelihara perekonomiannya, hal tersebut dapat dikaitkan dengan kepentingan apa yang ada dibalik strategi negara dalam memelihara perekonomian tersebut.

Jika ditelusuri lebih dalam, negara menerapkan merkantilisme ini dalam menjalankan roda perekonomian negaranya karena negara sendiri memandang kekayaan negaranya patut dilindungi, terlebih untuk negara-negara baru yang bermunculan dalam tatanan sistem internasional. Dalam melindungi kekayaan nasional ini, merkantilis negara mengandalkan kebijakan proteksionis dengan harapan dapat memperbesar ekspor dan memperkecil impor. Terlihat begitu egois memang, namun  pada akhirnya yang akan diuntungkan dalam kebijakan ini bukan hanya negara itu sendiri tetapi seluruh aspek kehidupan di dalamnya. Para merkantilis ini memandang negara sebagai zero sum game karena tidak dapat dipungkiri setiap negara memiliki kepentingan nasionalnya masing-masing dan merkantilisme inilah merupakan sarana negara untuk mempertahankan kekayaan dan menarik keuntungan bagi negaranya.

Memang terlihat seperti negara begitu ikut campur dalam urusan ekonomi  sehingga kebebasan pasar tidak tercapai layaknya para pemaham liberalis. Negara mengatur segala kebijakan yang berkaitan dengan ekonomi. Akan tetapi, nyatanya dengan memberikan kewenangan akan ekonomi itu kepada negara, banyak sekali hal baik yang tercipta dalam negara tersebut mengingat sebuah negara tidak hanya sekedar menjalankan roda perekonomiannya namun juga memikirkan konsekuensi dan aspek politik ketika negara menerapkan kebijakan-kebijakan ekonominya. Lain halnya, jika kebijakan ekonomi diserahkan kepada individu atau pasar, yang mungkin terjadi nantinya adalah saling berlomba untuk memperoleh keuntungan individu dengan mengabaikan negara sebagai entitas penting. Salah satu keberhasilan dari merkantilisme ini terlihat dalam perkembangan ekonomi di negara Asia, yakni munculnya “Empat Macan Asia” : Hongkong, Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan yang selama tahun 1970-an dan 1980-an yang mengalami pertumbuhan ekonomi begitu pesat. Ditambah lagi jika kita mengambil contoh kontemporer, Jepang, yang kini menduduki posisi ketiga setelah Amerika Serikat dan Cina sebagai negara dengan kekuatan perekonomian tertinggi di dunia. Keberhasilan negara – negara ini  merupakan realisasi dari strategi merkantilisme yang mereka terapkan dimana pemerintah begitu berperan aktif dalam mengatur dan memelihara proses pembangunan ekonomi negara.