Pasca serangan teroris 11 September 2001 dimana pesawat berisi rudal ditabrakan ke salah satu menara tertinggi di Amerika Serikat, yakni World Trade Center dan Pentagon,[1] masalah keamanan dan terorisme menjadi isu yang dianggap krusial bagi warga Amerika Serikat. Hal ini dibuktikan oleh presentase tanggapan masyarakat mengenai keamanan dan terorisme menjadi isu penting di Amerika Serikat yang spontan naik dari 1% menjadi 46% pasca peristiwa 9/11.[2]Terorisme ini mengusik ketenangan dan keamanan warga Amerika Serikat. Bagaimana tidak, akibat peristiwa yang begitu mencengangkan dunia ini sedikitnya 3000 orang tak bersalah meninggal.[3] Sejak saat itu, isu keamanan dan terorisme menjadi sangat penting karena stabilitas keamanan di Amerika Serikat telah terancam oleh serangan para teroris yang disinyalir berasal dari kelompok radikalis muslim, yakni Al-Qaidah.      Pemerintahan Amerika Serikat, di bawah pimpinan George W. Bush segera melancarkan aksi dalam rangka menjaga stabilitas keamanan negaranya dari para teroris dengan mendeklarasikan War on Terrorism. Semula War on Terrorism ini menjadi sebuah motivasi bagi pemerintahan Amerika Serikat untuk memberantas perkembangan terorisme yang ada di dunia. Namun, seiring dengan aksi pemberantasan terorisme yang dilancarkan oleh Pemerintahan Bush saat itu, banyak kekhawatiran yang muncul dengan tujuan awal dari program ini yang semula ingin merealisasikan dunia lebih aman tetapi justru berkembang menjadi bentuk invasi ke negara-negara yang dianggap sebagai sarang dari para teroris, seperti Afganistan. Sebagai contohnya, salah satu bentuk aksi dalam War on Terrorism ini adalah menginvasi Afganistan dengan tujuan menumpas pusat-pusat kelompok teroris Al-Qaidah dan pemimpin mereka Osama Bin Ladden kala itu. Akan tetapi, penumpasan teroris ini malah menelan banyak korban sipil tak bersalah, yakni sekitar 3500 orang terbunuh.[4] Selain itu, War on Terrorism ini perlahan membentuk stereotype negatif terhadap masyarakat muslim di dunia dan yang terjadi adalah terorisme tidak dapat dilepaskan dan diidentikan dengan masyarakat muslim.

            Dengan berlalunya peristiwa 9/11, isu keamanan dan terorisme memang perlahan menurun sebagai isu yang dianggap sebagai masalah penting untuk menjadi perhatian Amerika Serikat. Meskipun menurut Gallup Polling Methodology, lembaga strategic politics consulting Amerika Serikat, mengatakan bahwa isu keamanan dan terorisme menurun tiap tahunnya,[5] namun perlu disoroti kembali mengenai eksistensi dari permasalahan keamanan yang hingga sekarang belum memudar dan tetap menjadi ancaman bagi Amerika Serikat. Mengingat Amerika Serikat merupakan negara super power dengan kekuatan yang dapat memengaruhi dunia, Amerika Serikat sendiri tidak tertutup kemungkinan akan mendapat serangan dan ancaman dari luar negeri terlebih karena banyaknya intervensi Amerika Serikat ke permasalahan negara-negara lain. Tidak dapat dipungkiri bahwa serangan dan ancaman akan terus datang ke Amerika Serikat. Bentuk serangan dan ancamanpun tidak hanya terjadi di wilayah teritori Amerika Serikat tetapi kemungkinan terjadi di berbagai kantor perwakilan Amerika Serikat di negara lain.

            Setelah surutnya perhatian masyarakat dan pemerintah akan isu keamanan dan terorisme ini, pemerintah nampaknya akan kembali memusatkan perhatiannya kepada pentingnya keamanan bagi negara dan perwakilan negaranya di luar negeri pasca kejadian serangan mematikan terhadap Konsulat Amerika Serikat di Benghazi, Libya, yang baru-baru ini terjadi. Amerika Serikat dinilai gagal untuk memberikan keamanan bagi warganegaranya, khususnya 4 anggota staff konsulat Amerika Serikat termasuk Duta Besar Christopher Stevens yang tewas dalam serangan ini.[6] Semula serangan disinyalir sebagai bentuk protes masyarakat muslim Libya terhadap film yang dibentuk oleh salah satu warga Amerika Serikat dengan mencemooh Nabi Muhammad S.A.W. Namun, disinyalir kembali terdapat unsur-unsur kelompok teroris Al-Qaidah dalam peristiwa ini. Meskipun isu keamanan dan terorisme ini bukan lagi menjadi permasalahan yang paling utama diperbincangkan dalam khalayak Amerika Serikat tetapi perluasan jaringan-jaringan kelompok teroris terus berkembang di dunia. Oleh karena itu, isu keamanan dan terorisme sendiri sebenarnya masih patut menjadi salah satu perhatian utama bagi pemerintahan dan masyarakat Amerika Serikat, terlebih ketika pengamanan Amerika Serikat di luar negaranya sendiri seperti di kantor perwakilan negara dikatakan lemah pasca peristiwa serangan ke Konsulat Amerika Serikat di Benghazi, Libya, beberapa bulan lalu.


[1] A. Shah, ‘War on Terror’, Global Issues (online), 24 September 2011, <http://www.globalissues.org/issue/245/war-on-terror>, diakses 15 Oktober 2012.

[2] F. Newport, ‘Nine Years After 9/11, Few See Terrorism as Top U.S Problem’, Gallup Politics (online), 10 September 2010, <http://www.gallup.com/poll/142961/nine-years-few-terrorism-top-problem.aspx>, diakses 15 Oktober 2012.

[3] P. Bergen, ’11 Years After 9/11: Who are the terrorists?’, CNN News (online), 11 September 2012, <http://edition.cnn.com/2012/09/11/opinion/bergen-terror-september-11/index.html>, diakses 15 Oktober 2012.

[4] A. Shah, ‘War on Terror’, Global Issues (online), 24 September 2011, <http://www.globalissues.org/issue/245/war-on-terror>, diakses 15 Oktober 2012.

[5] [5] F. Newport, ‘Nine Years After 9/11, Few See Terrorism as Top U.S Problem’, Gallup Politics (online), 10 September 2010, <http://www.gallup.com/poll/142961/nine-years-few-terrorism-top-problem.aspx>, diakses 15 Oktober 2012.

[6] Kompas, 12 Oktober 2012, hal. 8.