Intervensi dan Invansi Amerika Serikat ke Berbagai Negara di Dunia

            Amerika Serikat merupakan negara federasi tertua yang menjunjung tinggi demokratisasi yang terdiri dari 50 negara bagian di dalamnya dengan ibukota negara Washington D.C. Sejak dahulu, Amerika Serikat dipandang sebagai negara adidaya dimata internasional. Hal ini didukung oleh kemenangannya dalam mehancurkan Jerman Nazi dan disusul oleh lagi-lagi kemenangannya dalam Perang Dingin melawan Uni Soviet yang ditandai dengan terpecahnya Uni Soviet menjadi beberapa negara.[1] Disisi lain dengan status adidaya yang nota bene dapat melakukan tindakan apapun sesuai kehendaknya, Amerika Serikat sendiri banyak memiliki kepentingan untuk memenuhi dan mempetahankan kekuasaan serta status adidaya yang dimiliki negaranya. Ditandai dengan banyaknya intervensi, invasi dan keterlibatan Amerika Serikat dalam berbagai macam permasalahan yang ada di berbagai kawasan. Dengan status tersebut, Amerika Serikat dapat dengan mudah mencampuri berbagai macam permasalahan yang ada di negara-negara belahan dunia manapun.

            Namun dalam intervensinya, tindakan Amerika Serikat ini cenderung bergerak kedalam dua arah, yakni intervensi yang dilakukan memperkeruh permasalahan di suatu negara dan kawasan atau justru intervensi tersebut membawa kearah perdamaian bagi suatu permasalahan. Bentuk campur tangan Amerika Serikat ini dibuktikan dengan keterlibatan negara tersebut dalam serangkaian Arab Spring yang terjadi di Timur Tengah.[2] Sedangkan, salah satu contoh konkret invasi Amerika Serikat ini adalah bentuk penetapan pasukan militernya di Irak karena negara itu disebut-sebut sebagai ancaman bagi keamanan kawasan maupun internasional karena telah mengembangkan senjata pemusnah massal dan disinyalir Al-Qaeda yang berpusat di Irak sebagai salah satu dalang dari aksi pengeboman gedung WTC di Amerika Serikat. Hal-hal inilah yang memicu peperangan Amerika Serikat dengan Irak, akan tetapi hingga 8 tahun 8 bulan 26 hari penetapan pasukan militer ini, hal yang dikhawatirkan Amerika Serikat tidak terbukti.[3] Ditambah lagi dengan campur tangan Amerika Serikat terhadap permasalahan di Teluk Persia, dalam kasus ini Amerika Serikat dianggapa telah mengusik dan mengancam perpecahan bagi Iran dan negara-negara tetangganya.

            Dalam hal ini penulis menganalisis dengan perspektif neorealisme dimana negara cenderung menggunakan power untuk bertahan (power as means of survival)[4] dengan salah satunya adalah mempertahankan kepentingan negaranya. Pertama, kasus invasi ke Irak, Amerika Serikat yang kala itu berada di bawah kepemimpinan George W. Bush memandang bahwa aktivitas Irak yang disinyalir memiliki senjata pemusnah massal tersebut dapat mengganggu stabilitas internasional dianggap sebagai kamuflase belaka karena nyatanya Amerika Serikat sendiri memiliki kepentingan di dalamnya sebagai wujud pertahanan negaranya karena turut merasakan kerugian pasca serangan twin tower WTCyang disinyalir berada di alik peranan Al-Qaeda. Dengan menggunakan kekuatan dan kekuasaannya ini, Amerika Serikat berupaya untuk melakukan external effort-nya, yaitu Al-Qaeda yang berpusat di Irak, sebagai aksi melawan pihak oposisi yang dianggap telah mengancam negaranya. Sementara dalam kasus intervensi ke Iran, Amerika Serikat sendiri memiliki kepentingan didalamnya. Tindakan berupa geretakan Amerika Serikat beserta beberapa negara Eropa akan embargo minyak dari Iran jika Iran terus mengembangkan nuklir dan menutup Selat Hormuz sebagai jalur perdagangan internasional dilandasi dengan mengagungkan nama stabilitas keamanan. Namun nyatanya, ancaman Amerika Serikat ini dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk ketakutan apabila kepentingannya di negara-negara kawasan Timur Tengah yaitu dalam ekspor-impor minyak terganggu jika Selat Hormuz benar-benar diblokade oleh Iran. Selain itu, ancaman Amerika Serikat ini juga merupakan salah satu bentuk kekhawatiran lainnya dimana negara adidaya ini menganggap pengembangan nuklir di Iran juga dapat menjadi pemicu instabilitas keamanan karena mengingat negara-negara kawasan Timur Tengah terkenal dengan stereotype anti-barat.


[1] F. Kaplan, ‘Ron and Mikhail’s Excellent Adventure’, 2004, Slate(online), <http://www.slate.com/articles/news_and_politics/war_stories/2004/06/ron_and_mikhails_excellent_adventure.html>, diakses pada 6 Mei 2012.

[2] M. Arditya, ‘Amerika, Arab Spring, dan Masa Depan Timur Tengah’, 2012, BPM FE UI (online), <http://www.bpmfeui.com/essay-bulanan-amerika-arab-spring-dan-masa-depan-timur-tengah/>, diakses pada 6 Mei 2012.

[3] Kompas, 10 Desember 2011, p. 8.

[4] C.W. Kegley, World Politics Trend and Transformation, 8th edn, Thomson Wasworth, Boston, 2008,  p. 34.